Cermin

CERMIN

            Mungkin akan terlintas dalam benak cermin itu yang terpampang besar di kamar kita, yang kita pandang dengan penuh kekaguman atas bayangan yang ada di dalamnya, atau sekedar merenungi nasib atau kekecewaan  atas bayangan yang ada di dalamnya.
Jika sebuah cerminan itu hanya kebaikan yang ada, tentu kita akan berfikir bahwa kita itu sempurna, atau bahkan sebaliknya.
Hari ini tepat dimana hari pertamaku masuk di perguruan tinggi, meski aku kuliah di universitas swasta tapi aku bangga karena aku kuliah dengan biaya dan hasil keringatku sendiri.
            Dengan wajah yang beseri-seri semangat yang menjulang tinggi aku bergegas segera merapikan diri untuk menuju kampus. Segera ku kabari ibuku di kampung bahwa hari ini hari pertamaku kuliah. Tanpa menatap raut wajahnya aku bisa merasakan begitu bangganya ia padaku.
“Semangat belajar mbak” terdengar sayup lirih suaranya.
Do’akan aku bu.. semoga segala urusanku lancar” Pintaku
“Ibu selalu mendo’akanmu”
  Semoga saja langit-langit mendengarkan Do’a ibuku, dan para malaikat Meng Aminkan Do’anya.
 #######
Keadaan lalu lintas begitu padat, mungkin ini bukan hal yang asing lagi di kota besar seperti Jakarta ini. Namun aku merasakan perbedaanya, atau karena rasa was-was karena takut terlambat sampai di  kampus, matapun selalu melirik jam yang ada di pergelangan tangan, abang hanya meliriku heran lewat kaca spion.
Sesampai di gerbang alhasil lapak kampus, parkiran, jalanan penuh dengan kendaraan roda dua, abang menyuruhku untuk segera bergegas mencari kelas, sedang bola mataku asyik melirak-lirik kesana kemari di antara ribuan orang di hadapanku. Aku hanya menghela nafas panjang, dengan hati yang tak tenang. mungkin abang tau dengan kondisi hatiku.
###
Aku masih di posisiku Berdiri, sambil mengerakan jari-jariku. Raut wajah abang pun mulai berubah, mungkin dia sudah kesal dengan sikap kekanak-kanakanku.
Dia langsung memutar balikan sepeda motornya lalu ia berjalan cepat di depanku dia memang selalu menjaga perasaanku, meski dia kesal dia selalu diam dan selalu bilang “aku nggak marah” tapi aku tau bahwa dia sedang marah.

#########
Sesampai dikelas dia langsung pergi berlalu, aku masih diam di posisi sebelum abang meninggalkanku, di depan pintu. Langkah kaki semakin berat untuk masuk ke kelas.
Abang benar-benar tega, dia pergi di saat aku seperti ini. menggerutu
“Kamu nggak masuk?”
“ Abang belum pulang? Tanyaku heran
“di dalam nggak ada perempuanya bang”
“aku sengaja pergi tadi, aku ingin tau seberapa kuat mentalmu, lalu mau sampe kapan kau seperti ini?”
“entahlah, abang marah?”wajah melas
“tidak”
“aku mau pulang aja bang” ajaku
“terus??”
Dia menatapku heran, akupun langsung merunduk dan memberanikan diri memasuki kelas itu.

Ya Allah dengan iman yang setipis ini mampukah aku setia? Mampukah aku tetap Istiqomah,
Tangguhkanlah hatiku Ya Allah, Jika benar ini adalah ujian imanku.. aku yakin kau tetap bersama orang-orang yang jalanya engkau Ridhoi, lalu mantapkalah hatiku dan luruskanlah niatku, bahwa tujuanku hanya untuk menuntut ilmu.

Saat masuk kelas hatiku Bergemuruh, kaki layaknya tak sanggup menopang badan. Ingin rasanya aku teriak pada Alam bahwa hatiku sedang tak karuan.  Mengapa solah-olah semua mata tertuju padaku.
Lalu mataku terpaku kepada dua orang wanita yang sedang duduk di dekat jendela, aku  segera bergegas menghampirinya dan berkenalan dengan mereka.

#############
Hari pertama kuliah, tiada kesan, semuanya hambar begitu saja..
Ah, kenapa aku bisa sampai di kampus ini aku ingin kuliah di kampus bernuansa islami dengan sapaan “Assalamulaikum” setiap aku masuk ke dalam kampus, dan mendapatkan senyum ramah dari akhwat-akhwat yang bertudung panjang.
Lamunanku itu buyar ketika abang mengangetkanku. Dia suka begitu seperti hantu datang tiba-tiba dan suka berlalu seenaknya.
“ bagaimana hari pertamamu kuliah?”Dengan wajah penasaran
“Biasa aja” jawabku cuek
coba ceritakan
Ah abang, kenapa kepo begitu? Tidak ada yang layak di ceritakan. Dengan nada datar tapi meyakinkan.
Lalu abang duduk pada posisi berjauhan dan menatapku tajam keheranan, aku diam masih ingin melanjutkan kesah dalam hatiku yang sempat terganggu oleh kehadiranya. Tapi semua hilang begitu saja, tanpa membekas sedikitpun dalam ingatan.
Sempat aku berfikir, mengapa aku selalu mendapatkan atau di tempatkan pada posisi yang tidak aku sukai, atau bahkan posisi dimana sesuatu hal yang paling aku benci.
Dan saat aku bertanya-tanya mengapa?  hanya waktu yang perlahan akan menjawabnya. Hari kedua dan seterusnya aku masih tetap dingin dan asing di kelas, bahkan aku tidak menemukan teman yang sejalan dan sepemikiran denganku.
Aku benar-benar muak dengan semua ini, bahkan mungkin mereka benar-benar muak denganku.
Hingga akhirnya aku bercerita dengan abang atas semua yang ku alami di kampus, cerita dari kelompok kanan yang super heboh di kampus, dan orang yang iseng mengsiuliku, aku benar-benar benci harus di tempatkan di sini.
Apakah benar aku tidak pantas untuk menepati kampus idamanku, atau memanglah otaku yang tak pantas untuk menepatkan di universitas itu. Rasanya aku benar-benar kecewa dengan keadaanku saat ini.
Sementara abang hanya manggut-manggut mendengarkan ceritaku, ia memang benar-benar pendengar yang baik.
abang..” teriaku
Dia hanya mengerutkan dahi dan tertawa kecil, dan itu yang biasa ia lakukan saat aku sedang cerita. Dan itu juga yang akan membuatku kesal padanya.
Ah kamu, cukuplah mengeluh untuk keadaan, bukankah semua sudah ada jalanya? Ambil hikmahnya dan belajarlah menerima dan ikhlas untuk menjalaninya” katanya sambil berlalu.
Aku kesal dengan segala teka-teki omonganya, kenapa aku harus mikir panjang jika dia bisa menjelaskanya.
Ah, rasanya ingin aku teriak bahwa tidak ada yang paham pada posisiku, dia memang selalu begitu melihat orang lain dengan cara pandang hidup yang di jalaninya.

####
            akhirnya aku mencoba membuka diri untuk mengenal mereka. mengenal yang lebih tua dariku dan mereka yang lebih muda dariku. Aku belajar dari kebaikan mereka dan keburukan mereka.
Dari mereka aku mendapatkan banyak hal tentang hidup, dari bagaimana aku bersikap untuk lebih dewasa, dan bersikap menerima realita.
Selebihnya aku bisa berkaca pada mereka yang lebih muda, berkaca akan masa-masa dimana aku memiliki sifat yang paling egois, sifat yang paling ingin menang sendiri, sifat yang benar-benar orang benci dan masih banyak lagi.
Dan aku bisa berkaca kepada yang lebih tua, dari ketidak banyakan bicara mereka, kesungguhkan mereka, kearifan mereka, toleransi mereka.
Subhanallah bukankah ini yang aku cari?? Bukankah aku mendapatkan suatu hal yang lebih aku butuhkan dalam hidup? “ Alhamdulillah “
Allah menepatkanku di posisi yang aku butuhkan dalam hidupku.


BERSAMBUNG……

Komentar

Postingan Populer